{[['
']]}
Haji dan qurban mengisyaratkan keberserahan diri seorang Muslim terhadap perintah Allah SWT, dalam merealisasikan syariahnya. Sedangkan hubungan syariah agama Islam ini bagaikan satu kesatuan sebuah keluarga.
Ibadah haji dan kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim sebagai lambang tauhid berhadapan dengan kesyirikan yang diwakili oleh ayahnya sendiri dan masyarakatnya. Apa arti semua itu bagi umat Islam? Kisah yang mengharukan dan filosofis tentang perjalanan Nabi Ibrahim dilukiskan Alquran hanya dalam 10 ayat pendek, dan di bagian lain sebuah pernyataan yang juga hanya sekitar 10 ayat. Yang pertama, kurban adalah simbol pengorbanan demi membela tauhid, dan yang kedua, kurban demi membela dan membantu kaum fakir miskin.
Memang, kurban ini wujudnya berupa hewan yang secara simbolik dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi, konkretnya yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, melainkan yang sampai adalah ketakwaan (QS 22: 37). Ketakwaan yang menjadi salah satu syarat ini, tak lain adalah kecintaan kepada Tuhan dan ini menuntut juga untuk mencintai sesama manusia dengan segala perbuatan baik.
Berbuat amal kebaikan harus diwujudkan dalam simbol-simbol lahir dan batin, seperti penyembelihan hewan kurban dengan tujuan utama daging hewan itu dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. Sedangkan, niat dan tindakan adalah sebuah manifestasi ketakwaan. Kita dapat belajar dari kurban hewan yang dilakukan oleh Rasulullah. Rasulullah menyembelih sebanyak 100 ekor, menurut satu sumber, dan 63 ekor menurut sumber lain, bukan sekadar untuk ulang tahun yang ke-63, tetapi terutama sebagai rukun ibadah untuk menyantuni masyarakat tidak mampu.
Ibadah haji dan kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim sebagai lambang tauhid berhadapan dengan kesyirikan yang diwakili oleh ayahnya sendiri dan masyarakatnya. Apa arti semua itu bagi umat Islam? Kisah yang mengharukan dan filosofis tentang perjalanan Nabi Ibrahim dilukiskan Alquran hanya dalam 10 ayat pendek, dan di bagian lain sebuah pernyataan yang juga hanya sekitar 10 ayat. Yang pertama, kurban adalah simbol pengorbanan demi membela tauhid, dan yang kedua, kurban demi membela dan membantu kaum fakir miskin.
Memang, kurban ini wujudnya berupa hewan yang secara simbolik dipersembahkan kepada Tuhan. Tetapi, konkretnya yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, melainkan yang sampai adalah ketakwaan (QS 22: 37). Ketakwaan yang menjadi salah satu syarat ini, tak lain adalah kecintaan kepada Tuhan dan ini menuntut juga untuk mencintai sesama manusia dengan segala perbuatan baik.
Berbuat amal kebaikan harus diwujudkan dalam simbol-simbol lahir dan batin, seperti penyembelihan hewan kurban dengan tujuan utama daging hewan itu dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. Sedangkan, niat dan tindakan adalah sebuah manifestasi ketakwaan. Kita dapat belajar dari kurban hewan yang dilakukan oleh Rasulullah. Rasulullah menyembelih sebanyak 100 ekor, menurut satu sumber, dan 63 ekor menurut sumber lain, bukan sekadar untuk ulang tahun yang ke-63, tetapi terutama sebagai rukun ibadah untuk menyantuni masyarakat tidak mampu.

Posting Komentar